Rabu, 11 Maret 2009
BERSYKURLAH
Tak patut pula untuk kita pertanyakan apapun itu
Bahwasanya kita sanggup, untuk bersyukur
akan hal-hal baik yang kita terima
dalam hidup kita ini.
Karena memang itu, merupakan perihal
yang taklah sulit untuk kita lakukan
Dan sepatutnyalah kita menjadikanya
suatu keniscayaan.
Namun, tahukah kita
Bahwa akan terasa lebih bermakna hidup ini, jikalau kita jua
Bisa Bersyukur akan kesulitan-kesulitan
yang tengah kita hadapi,
hingga Ia ‘kan bisa menjadi berkah bagi kita.
Berusahalah...!
Karena itu, selayaknya dan sepatutnya kita untuk bersyukur
Dan...
BERSYKURLAH..!
Ketika kita tidak mengetahui sesuatu.
Karena hal itu...
Memberi kita sebuah kesempatan dan peluang
Untuk senantiasa kita belajar.
BERSYUKURLAH...!
Saat suatu masa (yang sebenarnya amatlah tidak di ingini oleh manusia)
Yang amatlah sulit dan suram menghampiri diri kita.
Karena..., dengan singgahnya ia menghampiri perjalanan hidup kita
Kita ‘kan menjadi tumbuh semakin dewasa.
BERSYKURLAH...!
Ketika suatu tantangan dalam hidup
Tampak dihadapkan kita dan memaksa kita untuk menghadapinya.
Hadapilah...!
Karena dia yang akan bisa membangun
Kekuatan dan karakter kita.
BERSYKURLAH...!
Ketika kita (walau tak dikehendaki)
berbuat suatu kesalahan dalam hidup ini.
Karena..., dengan kita berbuat demikian,
Kesalahan telah memberikan suatu pelajaran
Yang amatlah berharga pada diri kita.
BERSYUKURLAH...!
Ketika kita tiada kuasa ‘tuk melakukan suatu hal.
Karena..., dengan begitu
Kita t’lah akan memiliki suatu kesempatan ‘tuk
Memperbaiki diri.
BERSYUKURLAH...!
Ketika kita tiada berdaya.
Karena itu memberi arti...
Bahwa kita t’lah membuat suatu perbedaan
Yang membuat orang lain lebih mengenal kita.
Dan...
BERSYKURLAH...!
Ketika kita tidak bisa memilki
Semua yang kita inginkan dalam hidup.
Karena...
Jikalau kita memiliki semuanya...,
Apalagi yang hendak kita cari dalam hidup ini...???
Jumat, 16 Januari 2009
WAJAH YANG MENAKUTKAN
Tengah malam Nayla terjaga dari tidurnya. Ia ingin buang hajat kecil yang dirasakannya beberapa menit yang lalu. Tepai, ia takut keluar dari kamar. Malam itupun ia uring-uringan. Sang suami yang terbiasa menemaninya tidur sedang ada tugas di luar
Puncaknya, Nayla tak tahan membendung aliran air yang sedari tadi hendak menerobos organ vitalnya. Akhirnya ia pun terpaksa kencing di kamar. Seprei dan kasurnya basah. Dan bau pesing pun meruap oleh ulahnya sendiri. Malam itu, ia malah tidak bisa tidur karena tempat tidurnya kotor. Keadaan ini justru membuatnya jauh lebih takut karena otomatis pikirannya membayangkan hal yang tidak-tidak. Ia takut di kamarnya ada setan. Ketika Subuh tiba, hatinya baru bisa tenang. Baginya, saat adzan Subuh bergema berarti setan telah pergi dari keadaan sekitarnya hingga Maghrib kembali tiba.
Besok harinya ia bercerita kepada sang teman, Lisa, kalau semalam ia kencing di atas kasur. Mendengar kisah polos ini , Lisa pun bertanya, “Kenapa kamu harus melakukannya?” Nayla pun menjawab sejujurnya, “Terpaksa karena takut pada setan.” Lisa pun tertawa meledek. “Gini hari, masih takut pada setan,” ujarnya ngeledek, hingga membuat wajah Nayla merah karena kesa.
Kenapa kita mesti takut pada setan? Wajah setan memang menyeramkan, lebih seram daripada wajah orang yang babak belur oleh bogem. Tetapi, itukah yang kita takutkan. Kenapa bukan wajah malaikat penjaga neraka yang kita takutkan? Sebab, ia jauh lebih mengerikan saat menyiksa orang yang durhaka kepada Allah. Sehingga kita berusaha sebaik mungkin untuk taat pada Allah agar tidak bertemu malaikat itu nanti.
Lagi pula, setan tak tentu menampakkan wajahnya di depan kita –meski di tempat yang gelap gulita dan menakutkan sekalipun. Apalagi, hati dipenuhi lafadz-lafadz Allah, setan pun tak berani menampakkan wajahnya. Lantas, kenapa kita takut pada sesuatu yang sebenarnyabelum jelas? Kita mestinya jauh lebih takut pada Allah. Dalam kondisi ketika kita sedang takut, sebaiknya ingat bahwa Allah sebenarnya sedang bersama kita. Jika kita menyebut-Nya, ia pasti menolong kita. Setan pasti akan dibuatnya lari terbirit-birit. Lantas, kenapa kita takut pada setan.
Horace Fletcher berkata, “Ketakutan adalah asam yang dipompakan ke dalam atmosfer seseorang. Ketakutan menyebabkan kesesakan secara mental, moral, dan rohaniah, dan terkadang kematian; kematian terhadap energi dan segala pertumbuhan.”
Meski kata-kata di atas berlaku dalam hokum kerja, tetapi tak salah juga dikaitkan pada persoalan spiritualitas. Artinya, orang yang takut pada setan bisa menyebabkan mental, moral dan rohaninya sesak (terkikis). Bahkan, ketakutan ini bisa membuat pelakunya pada situasi yang berbahaya: histeris lalu pingsan dan mengakibatkan tekanan mental.
Sebab itu pertajam spiritual kita. Asah tekad kita agar jauh lebih berani. Tanamkan dalam pikiran bahwa ada wajah yang jauh lebih mengerikan kelak di neraka dibandingkan wajah-wajah setan yang sebenarnya tidak akan mengganggu kita. Sungguh ironis, hanya karena takut pada setan kita tidak jadi keluar kamar untuk membuang hajat. Jika begini, kapan lagi kita punya waktu untuk shalat tahajud di malam hari, kalau rasa takut pada setan lebih mengalahkan ketakutan kita pada Allah?
Asytaghfirullah al-‘adzim.
Hidayah : edisi 84, Agusutus 2008.
Selasa, 13 Januari 2009
Musik, Musik dan Musik
Bagi yang suka mendengarkan musik sholawat ataupun qosidah atau lagu-lagu arabic. kami menyediakan situs untuk mendownload lagu-lagu sholawat.
Dan bagi yang suka mendengarkan musik pop atau rock dan yang lainnya, kamipun menyediakan situs untuk mendownload lagu-lagu tersebut.
Silahkan pilih lagu-lagu favoritmu.

.jpg)

